facebook twitter pinterest gplus  

Rabu, Oktober 12, 2016

Teuku Jacob, Tokoh Aceh Mantan Rektor UGM

aceh.my.id - Prof. Dr. Teuku Jacob lahir di Peureulak, Aceh Timur pada 6 Desember 1929 merupakan guru besar emeritus dalam bidang antropologi ragawi Universitas Gajah Mada, di kemudian hari tepatnya di tahun 1981 ia menjabat sebagai Rektor UGM ke-7, hingga tahun 1986.  Ia juga dikenal sebagai peneliti berbagai fosil yang ditemukan di Pulau Jawa.  Guru besar antropologi ini merupakan ilmuwan yang terus memperjuangkan penemuannya bahwa fosil di Flores bukan spesies baru, tetapi bagian salah satu dari subspesies Homo sapiens dengan ras Austrolomelanesid. 

Putra bungsu dari tiga bersaudara ini merupakan anak dari Teuku Sulaiman, Jacob tamat SMA di Banda Aceh, 1949 dan melanjutkan pendidikan di FK UGM, hingga lulus pada tahun 1956, kemudian Prof. Dr. Teuku Jacob melanjutkan S2 di Universitas Amerika, Washington DC, hingga mengambil gelar doktor di Rijksuniversiteit, Utrecht, Negeri Belanda, 1970. Di dua perguruan tinggi ini, Jacob dibimbing dua arkeolog ternama yakni Prof. Dr. W. Montague Cobb, dan Prof. Dr. G.H.R. Koenigswald.


Pria asli kelahiran Aceh ini juga dikenal sebagai seorang ilmuwan yang tekun pada bidangnya dan menghasilkan banyak karya tulis, penelitian, buku, artikel, makalah di berbagai surat kabar, dan jurnal. Dia merupakan bapak paleoantropologi Indonesia yang di akui dunia

Gagasannya di bidang pendidikan terasa orisinil. Misalnya, ia pernah melempar gagasan untuk menerima lulusan SMA IPS di fakultas kedokteran. Ia juga gusar melihat sebagian besar insinyur bekerja di kota. ‘’Kalau dokter bisa menjadi dokter Inpres, mengapa insinyur tidak,’’ katanya.Tetapi, memenuhi harapan Menteri P & K untuk mencetak kader penerus kegiatan bidang ilmu yang digelutinya, ia malah merasa sulit. Orang tidak banyak tertarik bidang ini karena hasilnya tidak langsung dirasakan. Lagi pula, bidang ini erat berkaitan dengan antardisiplin: ilmu kedokteran, biologi, kedokteran gigi, arkeologi, dan antropologi budaya. ‘’Menyiapkan program pendidikannya pun menjadi susah,’’ ujarnya.

Beberapa Negara mencatat Teuku Jacob sebagai anggota sejumlah perkumpulan. Ia juga menulis beberapa karya. Jacob menolak anggapan para ahli Barat bahwa manusia purba di kawasan Sangiran, Solo, bertradisi mengayau — memenggal kepala lalu memakan otak sesamanya. Ia menyatakan, ‘’Temuan-temuan tengkorak Sangiran umumnya sudah tidak bertulang dasar, rusak karena lemah. Lagi pula, manusia purba cukup bekerja dua jam untuk makan sepanjang hari, sehingga rangsangan untuk membunuh menjadi berkurang.’’

Di forum internasional, Teuku Jacob dikenal sebagai ilmuwan andal dan kukuh prinsipnya. Atas jasa Prof Dr Teuku Jacob inilah, fosil kunci manusia Jawa pithecantropus erectus yang pernah ditemukan, lalu diperdagangkan, akhirnya bisa dibawa pulang ke Indonesia. Dalam kasus lahan minyak di Celah Timor, Jacob ngotot agar Pemerintah Indonesia berani menyatakan hak atas kawasan itu. Ia pula yang tegas menolak klaim spesies baru oleh sekumpulan antropolog muda Australia atas fosil manusia kerdil Flores itu

Menikah dengan Nuraini, Jacob dikaruniai seorang anak wanita. Kegemarannya cuma membaca. Bila bepergian, ia sering membawa banyak kopor. Bukan pakaian, melainkan tulang belulang. Ketika membawa fosil ke Tokyo, 1977, Saya dijaga ketat, pakai polisi bersirene, dan lampu merah segala, ceritanya.

Tidak selamanya serius, Jacob juga suka berkelakar. Orang bisa memancarkan wibawanya lewat berbusana bersih, rapi, dan wangi, katanya. Tetapi, ‘’Di dunia kami lain. Semakin kumal baju yang dikenakan seorang peneliti, apalagi kalau ada lubang di sana-sini, ia akan semakin tampak berwibawa, dan lebih dihormati.

Hingga akhirnya pada 17 Oktober 2007 Teuku Yacob meninggal dunia di Yogyakarta, pada umur 77 tahun, Segenap anggota sivitas akademika Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, melepas kepergian sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada sang guru sosok ilmuwan sejati Prof Teuku Jacob. Guru besar emeritus Fakultas Kedokteran UGM ini dimakamkan di Makam Keluarga Besar UGM, Sawit Sari, Sleman, Yogyakarta.

Pelepasan jenazah Prof Teuku Jacob di UGM dilakukan dengan upacara militer dengan inspektur upacara Kepala Staf Komando Distrik Militer (Kodim) Sleman Mayor Infanteri Narso. Sewaktu muda, Prof Jacob tercatat sebagai pejuang yang tergabung dalam Tentara Pelajar Resimen Aceh.

0 komentar