facebook twitter pinterest gplus  

Kamis, Juli 27, 2017

Aceh, Islam, dan Sejarah Perjuangan Nasional Indonesia

Berbicara sejarah nasional Indonesia, pastinya tidak bisa terlepas dari peranan penting umat Islam dan para ulama, dengan berlandaskan semangat dan nilai-nilai keislam para ulama dan umat islam berjuaang dan bersatu bersama seluruh elemen masyarakat. Berbeda bukan berarti tidak bisa berdampingan, suku, ras dan agama bukan masalah untuk berjuang itulah nilai-nilai kebangsaan yang ditanamkan oleh para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia yang termasuk di dalamnya para ulama dan umat islam.



Memperjuangkan kemerdekaan Indonesia itulah tujuan mulia dari para perjuang bangsa. Kesatuan tetap terjaga dibalik perbedaan yang beragam, norma agama tetap menjadi landasan masing-masing. Para pejuang islam tetap menebar semangat keislam dalam setiap perjuangan.

Landasan teguh yang selalu tertanam dalam hati pejuang islam dimasa lalu dalam mempertahankan Indonesia adalah bahwa ini merupakan salah satu bentuk jihat dijalan Allah, jihat melawan penjajah kafir, sehingga tidak ada kata untuk mundur untuk mempertahankan tanah air dan agama.

Apabila kita melihat kilas balik sejarah perjuangan rakyat Indonesia khusunya di daerah yang mayoritas muslim, perjuangan rakyat umumnya dipimpin oleh para ulama. Sebut saja Aceh, provinsi yang terletak di ujung barat Indonesia ini merupakan salah satu provinsi dengan mayoritas penduduknya muslim.

Menurut data statistik 2016 populasi penduduk muslim di Aceh mencapai angka lebih 98%, Presentase masyarakat muslim yang besar di provinsi Aceh yang sudah terjadi sekitar puluhan tahun yang lalu. Hal ini pula yang membuat Aceh menetapkan diri menjadi provinsi yang berbasis syariat islam dalam berbagai aspek, termasuk hukum, budaya dan norma sosial

Populasi muslim yang begitu tinggi di Aceh mulai terjadi semenjak awal penyebaran Islam di nusantara pada abad ke-13. Aceh merupakan pintu awal masuknya Islam ke Indonesia, ketika itu masyarakat Aceh begitu cepat menerima ajaran islam. Beberapa referensi sejarah menyebutkan bahwa Islam di Aceh dibawa oleh para pedangan Arab, namun referensi lain juga ada yang menyebutkan bahwa Islam masuk ke Aceh dibawa oleh pedangan India maupun China.

Semenjak akhir abad 14 kerajaan Aceh telah mulai menetapkan diri menjadi kerajaan Islam, landasan budaya dan nilai-nilai hukum mulai di tetapkan sesuai dengan ketentuan ajaan Islam karena memang ketika itu islam telah menyebar luas di seluruh daerah Aceh.

Beberapa abad setelah Islam masuk dan meyebar di nusantara, kolonial belanda mulai berhasil menguasai beberapa kerajaan di Indonesia. Masuknya kolonial Belanda ke Indonesia tidak lantas membuat umat Islam bersama para ulama diam. Mereka terus menyusun strategi perlawanan untuk mengusir para penjajahan yang dipimpin langsung oleh para ulama-ulama karismatis nusantara, sebut saja seperti Tuanku Imam Bonjol.

Semangat islam dan semangat  kebangsaan dipadukaan sehingga melahirkan perjuangan yang begitu sengit sampai-sampai para kolonial merasa kewalaham menghadapi bangsa Indonesia yang begitu keras melakukan perlawanan. Para ulama sebagai pemimpin agama ketika itu juga sebagai panglima perang yang tidak pernah berhenti mengatur strategi dan siasat perang melawan penindasan para penjajah kolonial.

Di Aceh sendiri, perlawanan rakyat juga langsung dipimpin oleh para beberapa ulama diantaranya Teuku Umar, Panglima Polem, Tengku Cik Di Tiro dan lain sebagainnya. Perjuangan rakyat Aceh begitu keras, perjuangan dalam mempertahankan bangsa dan agama belandaskan jihat di jalan Allah membuat belanda benar-benar sulit untuk menguasai Aceh.

Hingga akhrinya Kolonial Belanda mengunakan strategi yang sangat licik untuk bisa menguasai Aceh yaitu dengan mengirim penyusup untuk mempelajari dan meneliti hal apa yang membuat masyarakat Aceh begitu kuat dan semangat dalam melawan penjajah. Christiaan Snouck Hurgronje pun diutus oleh pihak Kolonial Belanda untuk menyamar selama 2 tahun ke pedalaman Aceh dan meneliti segala hal tentang Aceh.

Hingga pada akhir penyamarannya Christiaan Snouck Hurgronje membuat sebuah kesimpulan seperti yang pernah diceritakannya di dalam sebuah buku yang dia tulis sendiri berjudul De Achers, bahwa untuk menghancurkan Aceh maka yang terlebih dahulu harus dihancurkan adalah para Ulama. Christiaan Snouck Hurgronje sangat memahami bahwa ada peranan yang begitu besar dari para Ulama dalam membangkitkan semangat juang rakyat Aceh.
 
Pada dasarnya gerakan perlawanan yang dipimpim oleh para Ulama tidak hanya terjadi di Aceh, namun merata di seluruh pelosok Nusantara yang memiliki mayoritas penduduk muslim. Di Sumatera Barat misalnya, muncul perang melawan penjajah yang dipimpin langsung oleh Tuanku Imam Bonjo,  Sedangkan di Luwu Perlawanan dipimpin oleh Kyai Haji Hasan, di Cilegon dipimpin oleh Kyai Haji Wasit, Perlawanan di Kudus dipimpim  Kyai Haji Jenal, Di Temanggung dipimpim oleh Kyai Haji Ahmad Darwis dan masih banyak lagi perlawanan yang dipimpin langsung oleh para Ulama

Perlawanan-perlawanan yang dipimpin para ulama Islam umumnya telah membuat pihak Kolonial Belanda kocar-kacir dan kewalahan. Menurut catatan sejarah bahkan perlawanan yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Jawa telah membuat kolonial Belanda rugi hingga 20 Juta Gulden (mata uang Hindia Belanda ketika itu) dari kas yang mereka miliki.


Selain kerugian materil perlawanan yang dipimpin oleh para ulama juga telah menewaskan lebih dari 10.000 jiwa tentara Belanda. Bukti fisik dari catatan sejarah bahwa ada begitu banyak tentara belanda yang tewas dalam perlawana ini masih bisa dilihat di Aceh yaitu di pemakaman tentara belanda yang begitu luas yang terletak di tengah kota Banda Aceh.

Bersambung.......

0 komentar