facebook twitter pinterest gplus  

Jumat, Februari 12, 2016

Biografi Lengkap Zaini Abdullah

aceh.my.id - Dr. H. Zaini Abdullah lahir di Beureunun, Kabupaten Pidie, Aceh pada 24 April 1940, ia merupakan Gubernur Aceh ke-16 yang bertugas sejak dilantik pada 25 Juni 2012. Selain menjabat sebagai Gubernur Zaini juga merupakan mantan seorang dokter dan mantan komandan Gerakan Aceh Merdeka, zaini menjadi orang kedua yang memimpin Aceh (Gubernur Aceh - read) setelah konflik.

Tgk. H. Abdullah Hanafiah tokoh kharismatik di wilayah pidie merupakan ayah dari Zaini Abdullah, Selain sebagai seorang ulama, beliau juga ikut serta dalam gerakan DI/TII bersama Daud Beureueh, republikan asal Aceh yang kemudian memimpin pemberontakan pembebasan DI/TII, dikemudian hari perjuangan Tgk. H. Abdullah Hanafiah itu dilanjutkan oleh dr. Zaini Abdullah. Pada tahun 1976, DR Tgk H Hasan Muhammad Tiro memproklamirkan GAM. Dr Zaini yang saat itu berstatus sebagai dokter langsung bergabung dalam barisan perjuangan yang menentang kesewenang-wenangan pemerintah pusat terhadap Aceh.



Keterlibatan Dr. Zaini tak terlepas dari dari kecintaanya kepada Aceh,  konsep pembebasan dan mensejahterakan rakyat Aceh yang diusung Wali Nanggroe Hasan di Tiro begitu melekat dalam jiwanya, dalam masa-masa perjuangan bersama GAM ada begitu banyak rintangan dan cobaan yang dihadapi, bersama para pejuang-pejuang GAM lainnya, ia terus diburu. Foto Zaini disebar hingga ke pelosok-pelosok desa, Tak ada jalan lain selain bergeriliya ke hutan-hutan selama berhari-hari, minggu, hingga berbulan-bulan.

Namun aparat keaman sama sekali tak berhasil mengendus keberadaan Dr. Zaini. Semua itu tak terlepas dari peran masyarakat di sekitarnya yang menutup keberadaan Dr. Zaini. Pada tahun 1981, dr. Zaini memilih untuk hijrah ke luar negeri, Selain karena kondisi Aceh semakin tak kondosif akibat operasi militer yang digelar pemerintah RI di Aceh, kepergiannya ke luar negeri juga bagian dari membangun diplomasi internasional, mengkampanyekan kesewenang-wenangan pemerintah RI di Aceh.

Pada suatu malam di tahun 1981, bersama beberapa rekan seperjuangan lainnya Zaini berangkat ke Medan melalui jalan darat, Dari Medan perjalanan kemudian dilanjutkan ke Singapura menggunakan boat nelayan. Perjalanan menempuh waktu tiga hari tiga malam. Dihembus angin laut, dibakar terik matahari, usai melalui perjalanan yang melelahkan itu, Zaini tiba di sebuah pelabuhan di Negara Singapura. Saat itu, sedang dilakukan pembangunan pelabuhan yang pekerjanya terdiri dari orang India dan Sri Langka, mereka berkulit hitam. Untungnya, kondisi Zaini dan rekan-rekannya yang lusuh dan hitam legam tak membuat polisi Negara Singapura curiga. Mereka dikira pekerja pelabuhan.

Dari sana, dr Zaini melanjutkan perjalanan menuju rumah Perdana Mentri GAM, Malik Mahmud di Bukit Timah. Selama lima hari di sana, ia berangkat menuju Swedia dengan menggunakan paspor Palang Merah Internasional. Seorang warga India yang bekerja di UNHCR saat itu berbaik hati mengurusi segala keperluan keberangkatan Dr. Zaini ke Swedia, tiba di Swedia yang ketika itu sedang musim gugur Zaini di tempatkan di pengungsian di Revieden, 100 kilometer kota Stockholm, Ibukota Swedia. Selama satu bulan ia berada di sana.

Keinginan dr. Zaini untuk menjadi dokter tetap dipertahankan meski beliau telah di Swedia. Sebelumnya, ia harus belajar bahasa Swedia di Universitas Upsula, dengan tugas utama belajar bahasa bahasa kedokteran. Usai menyelesaikan pendidikan bahasa dan pendidikan kedokteran, dr. Zaini mendapat ijazah dokter dan bekerja paruh waktu di salah satu rumah Swedia. Tempat kerja itu berjarak 80 kilimoter dari kediamannya, dari tahun 1990-1995, dr Zaini kembali menempuh pendidikan dokter spesialis keluarga. Biaya pendidikan ditanggung oleh Loan, dan biaya itu harus diganti selesai kuliah dari hasil kerja.

Profesi dokter memang telah menjadi bagian hidup dr. Zaini. Di tengah sejumlah kerja-kerja perjuangan untuk Aceh, ia terus menjalani profesi sebagai seorang dokter dengan ikhlas. Tak jarang, tugas-tugas kedokterannya sering berbenturan dengan tugas-tugas perjuangan. Semua itu diselesaikan dengan lancar. Diplomasi dengan dunia internasional pun terus dilakukan.

Pada tahun 2002, perundingan pertama antara pemerintah RI dengan GAM dilakukan di Tokyo. dr. Zaini terlibat langsung dalam perundingan itu. Namun perundingan gagal. Pemerintah Indonesia berusaha memasukkan GAM sebagai salah satu organisasi teroris. Berkat diplomasi dan lobi-lobi yang dilakukan tokoh-tokoh GAM di Swedia, usaha itu gagal total.

Pada 15 Agustus 2005, Memorandum of Understanding (MoU) antara GAM dengan pemerintah RI diteken. Tak lama setelah itu, dr. Zaini kembali ke Aceh, ia masih bercita-cita melanjutkan perjuangan, mensejahterakan rakyat Aceh. “Orang Aceh harus bekerja giat membangun masa depan Aceh, dan sanggup bersaing di tingkat internasional.”

Riwayat Pendidikan
  1. Sekolah Rakyat Beureunuen Pidie (1952)
  2. SMP Sigli Pidie (1957)
  3. SMA Kutaraja Banda Aceh (1960)
  4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (1972)
  5. Pendidikan spesialis ‘Family Doctor’ di Karolinska Universitets Sjukhus Huddinge, Stockholm-Swedia (1990-1995)

Riwayat Pekerjaan
  1. Kepala Puskesmas/Kepala Rumah Sakit Umum Kuala Simpang–Aceh Timur (1972-1975)
  2. Aktif sebagai dokter di sejumlah Rumah Sakit di Swedia (1982-2005)
  3. Pensiun dan bekerja sebagai Konsultan Kesehatan dan dokter di Rumah Sakit Umum dan Health Centre di Swedia (2005-2009)
  4. Gubernur Aceh (2012-sekarang)

sumber: partaaceh.com /id.wikipedia

0 komentar