Kampung Aceh di Malaysia - aceh.my.id

Breaking

aceh.my.id

Melirik Uniknya Aceh

Selasa, Maret 19, 2019

Kampung Aceh di Malaysia


aceh.my.id, Malaysia – Aceh memiliki ikatan yang sangat dekat, tidak hanya kisah cinta Putro Pahang dengan Iskandar Muda, lebih dari itu di Malaysia bahkan memiliki satu kampung khusus yang bernama Kampung Aceh Yan. Kampung Aceh Yan merupakan sebuah kampung yang terletak di Kuala Nerang, dalam negeri Kedah Darul Aman, yiaitu negeri di utara di Malaysia, dan yang bersempadan dengan negara Thailand di timur lautnya, dan bersempadan dengan negeri Perak di tenggara, Pulau Pinang di barat daya dan Perlis di bahagian utara. Menurut beberapa sumber secara historis kampung Aceh Yan dibentuk oleh pendatang dari Aceh yang hijrah pada akhir abad ke 19 atau sekitar 1870an. Kampung Aceh Yan dibentuk oleh Tengku Muhammad Arsyad seorang ulama yang berasal dari Ie Leubeu Pidie, Aceh.



Ada beberapa faktor orang-orang Aceh hijrah ke sana namun faktor paling penting ialah peristiwa peperangan Belanda atas Kerajaan Aceh pada tahun 1873. Sejak tahun 1873 Belanda mengumumkan perang dengan Aceh dan berhasil merebut istana kerajaan di Kutaraja pada tahun 1974. Sejak saat itu perang gerilya meluas ke seluruh wilayah Aceh yang dipimpin oleh kalangan Ulama. Perang di Aceh berlangsung sangat lama sehingga banyak ulama yang meninggal. Beberapa dari mereka termasuk Tengku Irsyad bermusyawarah dan memutuskan untuk hijrah ke Semenanjung Malaysia meneruskan perjuangan.

Setibanya di sana Tengku Muhammad Irsyad bersama orang-orang Aceh lainnya memugar tanah dan membuka kebun lada, pala, cengkeh dan karet. Sebahagian hasil dari perkebunan ini dibelikan senjata dan dikirimkan ke Aceh membantu perang melawan Belanda. Bahkan, mereka mendirikan sebuah pergerakan yang dinamai Gerakan “Breuh saboh reugam” untuk membantu perang Aceh. Sebahagian hasil perkebunan lainnya digunakan untuk membangun pondok madrasah dan pondok rangkang pengajian anak-anak dikampung dan masyarakat setempat. Tengku Al-Irsyad dikenal dengan gelar tengku di Balee. Karena ketinggian ilmunya maka banyak murid dari seluruh Nusantara yang datang untuk menimba ilmu di sana sehingga berkembang pesat.

Kampung Aceh Yan juga masih snagat menjaga nilai-nilai keacehan. Nilai keacehan yang masih terlihat akrab dengan mereka adalah, santun kata dan adab peujamee (menyambut tamu). Penggunaan bahasa murni, yang boleh dikatakan sudah kurang lazim digunakan dikalangan masyarakat Aceh, yang menghuni tanah Indatu sendiri, tapi itu terlihat seperti kelaziman sehari-hari masyarakat Yan, Keudah, misalnya: pasai (sebab), meucheen (rindu), cut (kecil), gata (panggilan anda untuk memuliakan yang lebih muda), dan lain-lain. Begitu juga dalam hal peujamee, cara penyambutan membuat kita seolah-olah sedang berada di Aceh.

Di sisi lain, mereka tidak hanya setia dengan warisan indatu, tapi mereka juga setia untuk Negara kelahiran. Banyak di antara mereka yang telah menyumbang jasa untuk Negara Malaysia, dan sebahagia dari mereka telah mendapat penghargaan gelar Dato’ dan Tan Sri. Sebagai contoh, almarhum Tan Sri P Ramlee, seorang tokoh seni yang dibanggakan oleh seluruh masyarakat Malaysia, dan masih dikenang sampai saat ini.

Contoh lain, Tan Sri Dato’ Seri Haji Sanusi  Bin Junid, beliaa adalah orang terdekat Dr. Mahathir (mantan perdana mentri Malaysia), beliau juga pernah menjabat sebgai Mentri Besar Keudah. Sampai saat ini beliau merupakan seorang yang disegani, baik oleh lawan maupun kawan dalam politik. Dan masih banyak tokoh-tokoh lain yang menjadi tonggak keberhasilan Negara Malaysia seperti yang kita lihat pada hari ini.

Meskipun telah banyak di antara mereka yang sukses, namun mereka masih ingat dengan tanah kelahiran indatu mereka. Saya melihat dari cara berbicara, dan cara mereka bertanya, terkesan ada rasa rindu yang besar terhadap Aceh. Pascadamai, ramai di antara mereka yang telah melampiaskan rasa rindu dengan sawee syedara, berkujung ke Aceh.

Referensi :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar