Pemamanan, Tradisi unik di Aceh Tenggara - aceh.my.id

Breaking

aceh.my.id

Melirik Uniknya Aceh

Rabu, Maret 03, 2021

Pemamanan, Tradisi unik di Aceh Tenggara

Aceh terkenal dengan Seni Budaya dan masyarakat yang religius serta mendapatkan predikat daerah khusus dari pemerintahan pusat. Banyaknya suku yg berada disini, membuat seni budaya dan adat istiadat juga beragam. Suku Aceh adalah suku yg terbesar di Aceh. Namun selain suku Aceh, suku lain yg mendiami Aceh sejak dulu juga beragam ada suku Gayo, suku Alas, Singkil, pak pak dan lainnya.

Ada beberapa seni budaya dari Aceh yang sudah mendunia, seperti Tari Saman dari tanah Gayo dan lainnya. Suku Gayo yg berada di kabupaten Gayo Lues, juga terkenal dengan pacu kuda yg setiap tahunnya diadakan.

Berbeda dengan suku alas, mereka menjadikan kuda sebagai media seni kebudayaan mereka. Suku alas adalah suku yg terbanyak di kabupaten Aceh tenggara. Yang juga terdapat lokasi wisata ternama, yaitu wisata gurah Ketambe di lingkungan Taman nasional gunung Leuser. Paru paru dunia adalah julukan bagi gunung Leuser.

Suku alas terkenal dengan istilah pemamanan, yang bermakna paman dari pihak ibu. Siapapun yg mengadakan acara sunatan atau perkawinan, maka mereka akan mengundang pamannya (saudara laki-laki dari ibunya.

Segerombolan orang berpakaian adat Alas melintas di jalan raya, mulai anak-anak hingga orang tua, laki-laki dan perempuan. Mereka membentuk iring-iringan. Sebagian ada yang menunggang kuda. Sebagian lainnya mengiringi dari samping dan belakang. Mereka pawai dari ujung jalan yang satu ke ujung jalan satunya lagi, melintasi jalan umum, melewati rumah-rumah penduduk.

Istilah pemamanan tidak lepas dari kata “paman” yakni laki-laki dari garis ibu—adik atau kakak ibu. Artinya, masyarakat Alas mempercayai paman sebagai penanggung jawab atas perhelatan pesta sunat rasul dan pesta nikah setiap keponakan mereka. Marwah setiap paman dipertaruhkan untuk kesuksesan pesta tersebut.


Memberikan tunggangan kuda kepada anggota keluarga keponakan merupakan bagian dari tradisi pemamanan. Paman-lah yang mencari/menyewa kuda tunggangan untuk dipakai oleh keponakan sekeluarga. Selain memberikan tunggangan kuda, si paman juga bertangung jawab atas segala yang diminta dari pihak ibu keponakannya.

Sebagai contoh, Bu Seulanga memiliki anak bernama Jeumpa. Tatkala Jeumpa akan menikah, Bu Seulanga menjumpai paman Jeumpa. Kepada paman Jeumpa disampaikan rencana pesta nikah Jeumpa. Tidak lama kemudian, di rumah paman dilangsungkan kenduri sederhana untuk memanggil masyarakat kampung. Paman yang menyampaikan hajat dari keluarga keponakannya kepada masyarakat kampung. Dalam tradisi ini ada proses pengumpulan uang dari masyarakat kampung sebagai tanda gotong royong dan hidup saling berdampingan.

Pengumpulan dana ikhlas dari masyarakat kampung dilakukan oleh paman dalam sebuah hajatan kecil di rumah si paman. Si paman mengundang orang kampung bermusyawarah di rumahnya, lalu disampaikan tentang keponakannya yang akan melangsungkan pesta nikah. Di saat inilah orang kampung akan memberikan dana ikhlas alakadar. Sumbangan orang kampung bisa membantu—paling tidak—meringankan sedikit beban si paman.

Apabila pemamanan dilakukan secara mewah, pihak keluarga memotong satu atau dua ekor lembu/kerbau yang di masak secara gotong royong dengan masakan lainnya. Pada hari ketujuh pemamanan, dilakukan acara selanjutnya berupa prosesi arak-arakan menaiki kuda yang membawa "pengantin" sunat digelar. Kemudian rombongan keluarga akan mendatangi rumah dari saudara ibu mereka yang menghadiahkan kuda. Jumlah kuda yang menjadi hadiah disesuaikan dengan kesepakatan yang diinginkan orang tua yang memiliki hajatan. Dan pada saat malamnya, "pengantin" sunat kemudian dikhitan mantri. Setelah itu, "pengantin" sunat ditidurkan diatas tilam yang kelambunya dibuat dari kain adat masyarakat Alas. Tilam berkelambu tersebut berada di ruang tamu dengan diikatkan seutas tali diatas pada bagian tengahnya, yang digunakan sebagai tempat menggantungkan pakaian adat yang telah dipakai.

Sekilas, tanggung jawab yang dinisbatkan kepada paman akan menjadi beban, baik beban ekonomi maupun beban moral. Beban bagi paman yang ekonominya menengah ke bawah, tidak tertutup kemungkinan ia akan berutang ke selingkar demi mengabulkan permintaan ibu keponakan. Di sinilah martabat paman sangat disanjung-saji.

Beban ekonomi sejalan dengan beban moral. Seorang paman yang tidak turut membantu tidak akan ditulis namanya di “buku keluarga” yang menggelar pesta. Berapa pun atau apa pun bentuk sumbangan si paman akan dicatat dalam “buku keluarga”. Di sini moral seorang paman dipertaruhkan. Biasanya, tidak ada paman yang tidak mau menyumbang, mengingat namanya akan dicatat di “buku keluarga” dan dibacakan dalam musyawarah keluarga.

Menurut orang setempat, perkara utang-piutang para paman selepas acara pemamanan sudah menjadi lumrah sejak dulu kala, sejak tradisi pemamanan mulai ada dalam masyarakat Alas. Hanya saja, bentuk pemberian paman berubah disesuaikan tuntutan zaman. Zaman dulu belum ada yang minta kulkas. Seorang paman hanya menyediakan kambing atau lembu. Sekarang, si paman kadang juga harus memberikan kulkas bahkan sepeda motor, tergantung apa yang diminta oleh ibu yang menikah. Singkatnya, paman adalah tulang punggung setiap keponakan.

Ada ubi ada talas, ada bagi ada balas, begitulah tradisi Alas mengatur semua. Dalam kearifan suku Alas, paman paling dimuliakan. Jika terdengar kabar paman akan berkunjung ke rumah keponakannya, keluarga keponakan sibuk mempersiapkan segala hal sambutan bagi si paman. Semua isi dapur, segala isi karung, segenap isi rumah akan ‘dikeluarkan’ untuk penyambutan paman. Paman lebih dimuliakan daripada pakcik (adik ayah). Tentu saja hal ini bentuk berbalasan dari pemamanan.


Sumber :
https://www.jkma-aceh.org/tradisi-pemamanan-dari-alas/
id.wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar