Aceh dalam Catatan Ibnu Batutah
Hampir
tujuh abad lalu, sebuah kapal yang membawa seorang pengembara asal Maroko tiba
di pesisir utara Sumatra. Lelaki itu telah menempuh perjalanan panjang
melintasi Afrika, Timur Tengah, Persia dan India sebelum akhirnya mencapai
sebuah kerajaan yang kini kita kenal sebagai Samudra Pasai.
Namanya
Ibnu Batutah.
Ia
meninggalkan kota kelahirannya, Tangier, pada 1325 ketika berusia sekitar 21
tahun. Tujuan awalnya adalah Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun
perjalanan itu tidak berhenti setelah ia menyelesaikan hajinya. Selama
bertahun-tahun berikutnya, Ibnu Batutah terus berpindah dari satu negeri ke
negeri lain hingga pengembaraannya membawanya jauh ke arah timur.
Kisah
perjalanan tersebut kemudian dikenal melalui sebuah karya berjudul Tuhfat
al-Nuzzar fi Ghara'ib al-Amsar wa 'Aja'ib al-Asfar, yang lebih sering
disebut sebagai Rihla Ibnu Batutah.
Rihla
bukanlah buku harian yang ditulis Ibnu Batutah setiap hari sepanjang
perjalanannya. Setelah kembali ke Maroko, ia diminta oleh Sultan Abu Inan Faris
untuk menceritakan pengembaraannya. Ibnu Batutah kemudian mendiktekan kisah
tersebut kepada Ibn Juzayy al-Kalbi, seorang sastrawan di lingkungan istana
yang menyusun dan menyuntingnya menjadi karya yang kita kenal sekarang.
Karena
itu, ketika tulisan ini menyebut “catatan Ibnu Batutah”, yang dimaksud adalah
kisah perjalanannya sebagaimana termuat dalam Rihla.
Di
dalam karya itulah kita menemukan cerita tentang kedatangannya ke Samudra
Pasai.
Nama
Samudra Pasai yang lazim kita gunakan sekarang juga perlu sedikit diberi
konteks. Dalam sumber-sumber lama, Samudra dan Pasai tidak selalu muncul
sebagai satu nama yang tidak terpisahkan. Dalam kisah Ibnu Batutah, tempat yang
ia datangi disebut Samudra. Tulisan ini menggunakan Samudra Pasai ketika
membicarakan kerajaan tersebut secara umum, sedangkan nama Samudra digunakan
ketika mengikuti kisah yang terdapat dalam Rihla.
Kerajaan
itu berada di pesisir utara Sumatra, dalam wilayah Aceh sekarang.
Ibnu
Batutah tidak sekadar menyebut nama Samudra lalu melanjutkan perjalanannya. Ia
menceritakan kedatangannya di pelabuhan, perjalanan menuju pusat kerajaan,
orang-orang yang datang menyambutnya, pertemuan dengan sultan, kehidupan di
sekitar istana, hingga sebuah pesta perkawinan keluarga kerajaan yang ia
saksikan ketika kembali singgah beberapa waktu kemudian.
Apa
yang ia ceritakan memberikan salah satu gambaran menarik mengenai Samudra Pasai
pada pertengahan abad ke-14.
Catatan
itu tentu bukan potret lengkap tentang Aceh masa lalu. Ia merupakan kesaksian
seorang musafir asing yang kemudian diceritakan kembali setelah perjalanannya
berakhir. Namun justru dari kisah tersebut tersisa berbagai detail yang sulit
kita temukan dalam sumber lain.
Lalu
seperti apakah Samudra Pasai yang diceritakan Ibnu Batutah hampir tujuh abad
lalu?
Dari
Tangier Menuju Samudra
Ketika
meninggalkan Tangier pada 1325, Samudra Pasai tentu bukan tujuan yang telah
direncanakan Ibnu Batutah sejak awal.
Perjalanannya
bermula dari keinginan menunaikan ibadah haji ke Makkah, tetapi kemudian
berkembang menjadi pengembaraan yang berlangsung selama puluhan tahun. Ia
melintasi Afrika Utara menuju Mesir dan kawasan Timur Tengah, mengunjungi
berbagai wilayah dunia Islam, kemudian melakukan perjalanan yang membawanya
hingga ke Asia Tengah dan India.
Ibnu
Batutah kemudian menghabiskan waktu cukup lama di Kesultanan Delhi.
Pengalamannya di India kelak menjadi penting ketika ia tiba di Samudra, sebab
di kerajaan yang terletak ribuan kilometer dari Delhi itu ternyata ia kembali berjumpa
dengan seseorang yang pernah dikenalnya di lingkungan kesultanan tersebut.
Setelah
meninggalkan India dan melanjutkan perjalanannya melalui kawasan Samudra
Hindia, Ibnu Batutah akhirnya mencapai Bengal, kawasan historis yang kini
sebagian besar berada di Bangladesh dan India timur. Ia kemudian mengunjungi
sejumlah tempat di wilayah tersebut sebelum berlayar dari kawasan Bengal menuju
Asia Tenggara.
Salah
satu tempat yang ia datangi adalah Sonargaon, yang kini berada di Bangladesh.
Dalam kisah perjalanannya, dari kawasan inilah ia mendapatkan kapal yang hendak
berlayar menuju negeri yang disebutnya Jawa.
Penggunaan
nama geografis dalam Rihla memang tidak selalu sama dengan batas wilayah
yang kita kenal sekarang. Istilah Jawa dalam sumber Arab abad
pertengahan dapat digunakan lebih luas daripada pengertian Pulau Jawa saat ini.
Dalam rangkaian perjalanan inilah Ibnu Batutah akhirnya mencapai Sumatra dan
tiba di Samudra.
Ketika
Kapalnya Tiba
Kisah
Ibnu Batutah tentang Samudra dimulai dengan suasana yang cukup hidup.
Ketika
kapalnya tiba di pelabuhan, penduduk setempat mendatangi kapal menggunakan
perahu-perahu kecil. Mereka membawa kelapa, pisang, mangga dan ikan.
Ibnu Batutah mengatakan bahwa penduduk setempat biasa memberikan barang-barang tersebut kepada para pedagang yang baru datang. Para pedagang kemudian memberikan balasan sesuai kemampuan masing-masing.
Tidak
lama kemudian seorang pejabat pelabuhan naik ke kapal. Ia memeriksa para
pedagang yang berada di dalamnya sebelum memberikan izin kepada mereka untuk
turun. Pejabat tersebut bernama Buhruz, yang dalam beberapa terjemahan Rihla
namanya juga ditulis Bohruz atau Bohroûz.
Setelah
Ibnu Batutah turun di pelabuhan, Buhruz mengirim kabar kepada sultan mengenai
kedatangannya.
Hanya
dari beberapa kalimat tersebut kita sudah memperoleh sebuah potongan kecil
mengenai kehidupan di pelabuhan Samudra pada pertengahan abad ke-14. Kapal
asing datang, masyarakat mendekatinya menggunakan perahu, para pedagang
berinteraksi dengan penduduk, dan ada pejabat yang menangani kedatangan mereka.
Ibnu
Batutah menyebut pelabuhan tempatnya turun sebagai Sarha.
Pusat
kerajaan tidak berada tepat di pelabuhan. Dalam Rihla, Sarha disebut
berjarak sekitar empat mil dari kota Samudra.
Tidak
lama setelah kabar mengenai kedatangannya sampai ke istana, sultan
memerintahkan sejumlah orang untuk menjemput Ibnu Batutah.
Dijemput
Orang-Orang dari Negeri Jauh
Sultan
memerintahkan beberapa orang untuk menyambut Ibnu Batutah.
Di
antara mereka terdapat Amir Daulasa, seorang qadi bernama Amir Sayyid yang
dikaitkan dengan Shiraz, Taj al-Din dari Isfahan, serta beberapa ahli hukum
Islam lainnya.
Nama
Shiraz dan Isfahan menarik perhatian karena keduanya merupakan kota penting di
Persia.
Namun
ada detail lain yang mungkin lebih menarik.
Ibnu
Batutah ternyata telah mengenal Amir Daulasa sebelumnya. Dalam Rihla, ia
mengatakan bahwa pejabat tersebut pernah datang sebagai utusan ke lingkungan
Sultan Muhammad bin Tughluq di Delhi.
Pertemuan
itu memperlihatkan betapa luasnya jaringan yang menghubungkan kerajaan-kerajaan
di sekitar Samudra Hindia pada masa tersebut.
Ibnu
Batutah datang dari Bengal setelah bertahun-tahun hidup di India. Ketika tiba
di sebuah kerajaan di pesisir utara Sumatra, ia bertemu kembali dengan
seseorang yang pernah dilihatnya di Delhi.
Rombongan
dari kerajaan membawa kuda untuk Ibnu Batutah dan para pengikutnya. Mereka
kemudian bergerak menuju pusat kerajaan.
Ketika
memasuki Samudra, Ibnu Batutah menggambarkan kota tersebut sebagai kota yang
besar dan indah. Ia juga menyebut adanya pagar atau dinding pertahanan dari
kayu yang dilengkapi menara-menara, juga terbuat dari kayu.
Gambaran
tersebut tentu harus dibaca sebagai apa yang dikisahkan Ibnu Batutah, bukan
sebagai rekonstruksi lengkap bentuk kota Samudra. Tetapi setidaknya Rihla
memberikan sedikit bayangan mengenai sebuah pusat kerajaan yang terletak
beberapa mil dari pelabuhannya.
Di
kota itulah ia menunggu untuk bertemu sang sultan.
Menunggu
Tiga Hari untuk Bertemu Sultan
Ibnu
Batutah tidak langsung menghadap sultan ketika tiba.
Dalam
kisahnya, ia terlebih dahulu diterima seorang pejabat tinggi kerajaan. Pihak
istana menyediakan pakaian untuk dirinya dan rombongan, kemudian makanan yang
sebagian besar berupa nasi.
Setelah
makan, disajikan pula sirih.
Ada
detail menarik dalam cerita Ibnu Batutah mengenai hal ini. Menurutnya,
penyajian sirih merupakan tanda bahwa pertemuan telah selesai dan para tamu
dapat beranjak meninggalkan tempat tersebut.
Ia
kemudian ditempatkan di sebuah rumah yang berada dalam lingkungan berpagar
kayu.
Ketika
Ibnu Batutah bertanya kepada Amir Daulasa kapan dirinya dapat bertemu sultan,
ia mendapatkan jawaban bahwa tamu yang baru tiba biasanya baru menghadap
setelah tiga hari.
Alasannya
cukup sederhana: agar kelelahan perjalanan telah hilang dan sang tamu kembali
berada dalam keadaan yang baik.
Selama
tiga hari itu, makanan terus diberikan kepadanya.
Barulah
pada hari keempat, yang jatuh pada hari Jumat, kesempatan untuk bertemu sultan
datang.
Sultan
al-Malik al-Zahir
Penguasa
Samudra yang ditemui Ibnu Batutah disebut dalam Rihla dengan gelar
Sultan al-Malik al-Zahir.
Ibnu
Batutah memberikan penilaian yang sangat positif terhadap penguasa tersebut. Ia
menggambarkannya sebagai seorang sultan yang mengikuti mazhab Syafi'i, menyukai
para ahli hukum Islam, serta menghadiri pertemuan tempat Al-Qur'an dibacakan
dan persoalan agama dibicarakan.
Pertemuan
mereka berlangsung setelah salat Jumat.
Ibnu
Batutah datang ke masjid dan kemudian menghadap sultan. Di sekitar penguasa itu
terdapat qadi dan para ulama.
Sultan
menanyakan perjalanan Ibnu Batutah, termasuk mengenai Sultan Muhammad bin
Tughluq di Delhi. Setelah percakapan tersebut, sang sultan kembali melanjutkan
pembahasan mengenai persoalan fikih dalam mazhab Syafi'i hingga menjelang salat
Asar.
Adegan
tersebut menjadi salah satu bagian paling menarik dalam cerita Ibnu Batutah
tentang Samudra Pasai.
Seorang
pengembara dari Maroko yang baru datang dari India duduk di sebuah kerajaan di
pesisir utara Sumatra bersama sultan dan para ulama, membicarakan perjalanan,
penguasa Delhi dan persoalan hukum Islam.
Dari
satu adegan sederhana itu terlihat bahwa Samudra bukan sebuah kerajaan yang
sepenuhnya terpisah dari perkembangan dunia Islam yang lebih luas.
Hal
lain yang menarik adalah mazhab Syafi'i.
Ibnu
Batutah secara khusus menyebut Sultan al-Malik al-Zahir sebagai pengikut mazhab
tersebut. Ia bahkan menulis bahwa masyarakat di kerajaan tersebut juga
mengikuti mazhab yang sama.
Kesaksian
seorang musafir abad ke-14 ini menjadi penting karena menunjukkan keberadaan
tradisi Syafi'i di kerajaan Muslim pesisir utara Sumatra pada masa yang sangat
awal.
Dari
Masjid Menuju Istana
Setelah
salat dan pertemuan keagamaan selesai, suasana yang diceritakan Ibnu Batutah
berubah.
Sultan
yang sebelumnya mengenakan pakaian yang dikaitkan dengan kalangan ahli agama
mengganti pakaiannya dengan pakaian kerajaan.
Di
luar masjid telah tersedia gajah dan kuda.
Hari
itu sultan menaiki seekor gajah, sedangkan Ibnu Batutah dan rombongan
mengikutinya menggunakan kuda. Para ulama berada dalam rombongan sang penguasa.
Mereka
kemudian bergerak menuju tempat sultan menerima para pejabat.
Di
sana Ibnu Batutah melihat tata upacara kerajaan yang lebih rumit. Ia
menceritakan adanya para wazir, pejabat, sekretaris, pemimpin militer,
keturunan Nabi, ahli hukum Islam, ulama, penyair, pelayan istana dan berbagai
kelompok lainnya yang mendapat tempat masing-masing dalam upacara menghadap
sultan.
Tidak
semua angka dan kemegahan dalam sebuah karya perjalanan abad pertengahan harus diterima
begitu saja sebagai pencatatan statistik yang presisi. Namun gambaran
keseluruhannya cukup jelas: Ibnu Batutah melihat sebuah istana yang memiliki
tata upacara, kelompok pejabat dan simbol-simbol kerajaan yang teratur.
Ini
pula yang membuat Rihla begitu menarik untuk dibaca.
Samudra Pasai tidak hanya muncul sebagai nama kerajaan dalam sebuah kronologi sejarah. Melalui kisah Ibnu Batutah, kita mendapat potongan-potongan kehidupan di dalamnya.
Dari pelabuhan tempat kapal-kapal datang, perjalanan menuju pusat kerajaan, masjid tempat sultan bertemu para ulama, hingga lingkungan istana dengan gajah, kuda dan tata upacaranya, Samudra perlahan terlihat sebagai sebuah kerajaan yang hidup.
Semua itu hadir melalui pengamatan seorang musafir yang hanya berada di sana dalam waktu relatif singkat.
Lima
Belas Hari di Samudra
Ibnu
Batutah mengatakan bahwa ia berada di Samudra selama lima belas hari dalam
kunjungan pertamanya.
Ketika
waktunya dianggap tepat untuk melanjutkan perjalanan, ia meminta izin kepada
Sultan al-Malik al-Zahir.
Perjalanan
menuju Tiongkok sangat bergantung kepada musim dan angin. Ibnu Batutah sendiri
mengatakan bahwa pelayaran ke Tiongkok tidak dapat dilakukan setiap waktu.
Sultan
kemudian menyediakan sebuah kapal untuk perjalanan tersebut, memberikan
perbekalan, serta mengirim seseorang untuk mendampingi mereka ketika berangkat.
Ibnu
Batutah pun meninggalkan Samudra.
Perjalanannya
kemudian berlanjut melalui berbagai tempat di Asia Tenggara sebelum akhirnya
mencapai Tiongkok.
Namun
Samudra Pasai belum selesai muncul dalam kisah perjalanannya.
Ia akan datang kembali.
Kembali
ke Samudra
Setelah
perjalanannya di Tiongkok, Ibnu Batutah bergerak kembali menuju barat.
Dalam
perjalanan pulang ia menemukan sebuah kapal yang berhubungan dengan Sultan
al-Malik al-Zahir. Awak kapal tersebut beragama Islam dan seseorang di dalamnya
mengenali Ibnu Batutah.
Perjalanan
laut tidak berlangsung mudah. Dalam Rihla, ia menceritakan perubahan
angin, hujan, perjalanan panjang di laut dan berbagai pengalaman lain sebelum
akhirnya kembali mencapai Sumatra.
Ia
pun kembali turun di Samudra.
Ketika
tiba, Sultan al-Malik al-Zahir baru kembali dari sebuah ekspedisi militer. Ibnu
Batutah kembali mendapatkan tempat tinggal dan diterima di lingkungan kerajaan.
Namun
pada kunjungan kedua inilah ia menyaksikan sesuatu yang membuat catatannya
tentang Samudra menjadi jauh lebih hidup.
Sebuah
pesta perkawinan sedang berlangsung di istana.
Yang
menikah adalah putra sultan.
Pesta
Perkawinan Putra Sultan
Ibnu
Batutah menceritakan pesta tersebut dengan cukup terperinci.
Di
tempat pertemuan kerajaan didirikan sebuah panggung besar yang dihiasi kain
sutra.
Pengantin
perempuan keluar dari bagian dalam istana dengan berjalan kaki. Ia ditemani
sekitar empat puluh perempuan dari lingkungan keluarga sultan, para amir dan
wazir.
Ibnu
Batutah menaruh perhatian khusus pada satu hal: wajah para perempuan tersebut
terlihat oleh orang-orang yang hadir.
Menurutnya,
hal itu bukan kebiasaan sehari-hari. Mereka melakukannya dalam konteks upacara perkawinan.
Pengantin
perempuan kemudian naik ke panggung.
Setelah
itu datanglah pengantin laki-laki.
Putra
sultan tersebut datang dengan menunggang seekor gajah yang dihias. Di atas
gajah terdapat tempat duduk seperti singgasana kecil yang dilengkapi semacam
naungan.
Ia
mengenakan mahkota.
Rombongannya
terdiri atas para pemuda dari lingkungan keluarga raja dan para amir yang
menunggang kuda dengan pakaian serta hiasan masing-masing.
Ketika
pengantin laki-laki memasuki tempat upacara, Ibnu Batutah menulis bahwa
kepingan emas dan perak dilemparkan kepada orang-orang yang hadir.
Sultan
menyaksikan seluruh prosesi dari tempat yang lebih tinggi.
Putranya
kemudian turun dari gajah, mendatangi ayahnya dan memberikan penghormatan
sebelum naik ke panggung menemui pengantin perempuan.
Namun
ada satu bagian dari upacara itu yang terasa sangat akrab bagi pembaca dari
Aceh dan kawasan Melayu hari ini.
Sirih
dan pinang dibawa ke hadapan kedua pengantin.
Ibnu
Batutah menceritakan bahwa pengantin laki-laki memberikan pinang dan sirih
kepada istrinya, kemudian pengantin perempuan melakukan hal serupa kepada
suaminya.
Prosesi
tersebut dilakukan di hadapan orang banyak.
Menarik
untuk melihat bahwa sirih-pinang telah muncul dalam gambaran sebuah upacara
perkawinan istana di Samudra pada abad ke-14. Tetapi hubungan langsung antara
prosesi yang dilihat Ibnu Batutah dan berbagai tradisi sirih dalam masyarakat
Aceh masa kini tentu membutuhkan kajian tersendiri. Rihla hanya
memungkinkan kita mengatakan bahwa sirih dan pinang memang memiliki tempat
dalam upacara yang ia saksikan ketika itu.
Setelah
prosesi selesai, pengantin perempuan ditutup dengan kerudung dan panggung yang
membawa kedua pengantin dipindahkan ke bagian dalam istana.
Para
tamu kemudian makan dan pulang.
Cerita
belum berhenti di sana.
Keesokan
harinya, menurut Ibnu Batutah, sultan kembali mengumpulkan orang-orang dan
menetapkan putranya sebagai penerus takhta. Sumpah kesetiaan diberikan
kepadanya dan berbagai hadiah berupa pakaian kehormatan serta emas dibagikan.
Bagi
sebuah catatan perjalanan, detail yang ditinggalkan Ibnu Batutah mengenai pesta
ini luar biasa kaya.
Kita
tidak hanya mengetahui bahwa perkawinan kerajaan pernah berlangsung.
Kita
dapat melihat panggung yang dilapisi kain sutra, perempuan-perempuan istana
yang mengiringi pengantin, pengantin laki-laki yang datang dengan gajah, emas
dan perak yang dilemparkan kepada orang-orang, hingga sirih-pinang yang
diberikan antara kedua mempelai.
Sejenak,
Samudra Pasai abad ke-14 tidak lagi terasa seperti nama kerajaan yang sangat
jauh.
Apa
yang Sebenarnya Diperlihatkan Ibnu Batutah?
Jika
seluruh kisah itu disatukan, Rihla memberikan beberapa gambaran penting
tentang Samudra.
Pertama
adalah dunia maritimnya.
Ibnu
Batutah datang menggunakan kapal dari Bengal dan kemudian berangkat lagi menuju
kawasan yang membawanya ke Tiongkok. Ketika pulang, ia kembali menemukan kapal
milik atau terkait dengan penguasa Samudra. Hal itu menempatkan kerajaan
tersebut di tengah jalur pelayaran yang menghubungkan kawasan Samudra Hindia
dengan Asia Tenggara dan Tiongkok.
Kedua
adalah kehidupan Islamnya.
Kita
menemukan sultan yang disebut mengikuti mazhab Syafi'i, masjid tempat
dilaksanakannya salat Jumat, qadi, ahli hukum Islam, pembacaan Al-Qur'an dan
pembahasan fikih di lingkungan penguasa.
Ketiga
adalah hubungan Samudra dengan dunia yang lebih luas.
Ada
Amir Daulasa yang pernah datang ke Delhi. Ada qadi yang dikaitkan dengan Shiraz
dan Taj al-Din dari Isfahan. Ada Ibnu Batutah sendiri, seorang pengembara
Maroko yang telah lama tinggal di India dan dapat diterima dalam lingkungan
istana Samudra.
Keempat
adalah kehidupan kerajaan.
Ibnu
Batutah menggambarkan pejabat, wazir, tentara, ulama, penyair, upacara
menghadap sultan, penggunaan gajah dan kuda, pemberian pakaian serta berbagai
tata cara istana.
Dan
melalui pesta perkawinan putra sultan kita mendapatkan sesuatu yang jauh lebih
jarang ditemukan: potongan kehidupan sosial dan upacara kerajaan.
Namun
semua itu tetap harus dibaca dengan satu kesadaran penting.
Kita
sedang melihat Samudra melalui mata Ibnu Batutah.
Membaca
Rihla dengan Hati-Hati
Rihla
bukan laporan sensus, bukan arsip administrasi kerajaan, dan bukan pula catatan
harian yang dapat selalu diperiksa tanggal demi tanggal.
Kisah
perjalanan Ibnu Batutah disampaikan kembali setelah ia pulang ke Maroko dan
kemudian disusun oleh Ibn Juzayy. Para peneliti juga masih mendiskusikan
bagaimana tepatnya proses kerja antara Ibnu Batutah dan Ibn Juzayy berlangsung.
Karena
itu, ketika Ibnu Batutah mengatakan bahwa sebuah kota indah, seorang raja murah
hati, atau sebuah upacara berlangsung dengan sangat megah, kita sedang membaca
kesaksiannya—beserta cara seorang penulis perjalanan abad pertengahan
menceritakan dunia yang ditemuinya.
Beberapa
bagian Rihla juga berisi kisah yang ia dengar dari orang lain, bukan
selalu sesuatu yang ia saksikan sendiri.
Hal
tersebut tidak membuat catatannya kehilangan nilai.
Justru
dengan membedakan antara apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, dan bagaimana
ia menilainya, Rihla dapat digunakan dengan lebih hati-hati sebagai
sumber sejarah.
Untuk
Samudra Pasai, nilainya tetap besar.
Ia
memberikan gambaran seorang pengunjung asing yang benar-benar menempatkan
dirinya di pelabuhan, kota, masjid dan lingkungan istana sebuah kerajaan di
pesisir utara Sumatra pada abad ke-14.
Aceh
yang Dilihat dari Jarak Tujuh Abad
Tentunya
Ibnu Batutah tidak pernah mengenal Aceh seperti yang kita kenal hari ini.
Kesultanan
Aceh Darussalam muncul pada masa yang lebih kemudian. Samudra Pasai adalah
kerajaan yang berbeda, meskipun pusatnya berada di wilayah yang sekarang
termasuk Aceh.
Karena
itu, judul “Aceh dalam Catatan Ibnu Batutah” tidak berarti bahwa Ibnu Batutah
pernah mengunjungi Kesultanan Aceh Darussalam. Kerajaan yang ia datangi dan
ceritakan dalam Rihla adalah Samudra.
Namun
hampir tujuh abad kemudian, tempat yang dikisahkannya berada dalam wilayah
Aceh. Peninggalan kerajaan itu menjadi bagian dari sejarah Aceh, sementara
kisah yang terdapat dalam Rihla memungkinkan kita melihat sepotong
kehidupan masyarakat yang pernah hidup di pesisir utara Sumatra jauh sebelum
Kesultanan Aceh Darussalam mencapai masa kejayaannya.
Barangkali
itulah bagian paling menarik dari perjalanan Ibnu Batutah.
Ia
datang sebagai orang asing.
Ia
hanya berada di Samudra dalam waktu yang relatif singkat.
Kemudian
ia pergi dan melanjutkan pengembaraannya hingga akhirnya kembali ke Maroko.
Tetapi
berabad-abad kemudian, cerita mengenai kapal-kapal yang memasuki pelabuhan,
ulama yang duduk bersama sultan, gajah yang membawa putra mahkota, hingga sirih
dan pinang dalam sebuah pesta perkawinan masih dapat kita baca.
Melalui
kisah seorang musafir dari Tangier, kita mendapat kesempatan langka untuk
mengintip Samudra Pasai pada abad ke-14.
Bukan
dalam bentuk kerajaan yang membeku di halaman buku sejarah, tetapi sebagai
sebuah tempat yang pernah dipenuhi kapal, pedagang, ulama, pejabat kerajaan,
pengantin dan orang-orang yang menjalani kehidupan mereka sehari-hari.
Dan
mungkin, justru dari detail-detail kecil itulah masa lalu terasa paling dekat.
Sumber
utama dan bacaan
Sumber
utama untuk kisah kedatangan, pertemuan dengan Sultan al-Malik al-Zahir,
kehidupan istana, lama kunjungan pertama, perjalanan kembali dari Tiongkok,
serta pesta perkawinan adalah Rihla Ibnu Batutah. Untuk pengecekan teks
digunakan terutama edisi Voyages d’Ibn Batoutah, terjemahan C. Defrémery
dan B.R. Sanguinetti, Tome IV, Imprimerie Impériale, 1858, serta The Travels
of Ibn Battuta, A.D. 1325–1354, Volume IV, terjemahan yang diselesaikan dan
diberi anotasi oleh C.F. Beckingham untuk Hakluyt Society, 1994.
Untuk
proses penyusunan Rihla dan hubungan antara Ibnu Batutah dengan Ibn
Juzayy digunakan keterangan Library of Congress dalam Ibn Battuta’s Rihla,
serta Claudia Maria Tresso, “India’s Epidemics in the Riḥla
of Ibn Baá¹á¹Å«á¹a:
Plague, Cholera or Lexical Muddle?”, Bulletin of the School of Oriental and
African Studies, Vol. 86, No. 1, 2023.
Untuk
konteks penggunaan istilah Jawa dalam sumber-sumber Arab digunakan
Michael Laffan, Finding Java: Muslim Nomenclature of Insular Southeast Asia
from Śrīvijaya to Snouck Hurgronje, ARI Working Paper No. 52, Asia Research
Institute, National University of Singapore, 2005.
Sementara
untuk konteks sejarah dan kehidupan Islam di Samudra Pasai digunakan antara
lain Ayang Utriza Yakin, “Islamisasi dan Syariatisasi Samudera-Pasai Abad ke-14
Masehi”, ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman, Vol. 9, No. 2, 2015.
--------
Catatan aceh.my.id
Tulisan ini dikembangkan dengan bantuan AI sebagai teman diskusi dalam proses riset dan penyuntingan. Seluruh isi akhir telah ditinjau dan disunting oleh penulis.

Leave a Comment