Aceh dalam Catatan Tomé Pires: Menelusuri Suma Oriental dari Awal Abad ke-16

Hari ini kita mengenalnya sebagai Aceh.

Namun, sekitar lima abad yang lalu, seorang penulis Portugis mencatat nama wilayah ini dengan bentuk yang berbeda: Achey.

Nama tersebut muncul dalam Suma Oriental, karya Tomé Pires yang disusun pada awal abad ke-16, ketika dunia perdagangan di sekitar Selat Malaka sedang mengalami perubahan besar. Portugis baru saja merebut Malaka pada 1511, sementara kerajaan-kerajaan dan pelabuhan di Sumatra bagian utara tetap menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Asia Tenggara.

Bagi sejarah Aceh, catatan ini menarik bukan hanya karena menyebut nama Achey. Lebih dari itu, Suma Oriental memberikan gambaran mengenai posisi Achey di antara negeri-negeri lain di ujung utara Sumatra, hubungan kekuasaan yang digambarkan Pires, serta aktivitas perdagangan dan pelayaran yang berlangsung di kawasan tersebut.

Tetapi membaca Pires juga membutuhkan kehati-hatian. Ia tidak selalu berada di setiap tempat yang ia gambarkan. Sebagian informasi dalam karyanya berasal dari jaringan pedagang, pelaut, pejabat, dan orang-orang lain yang ditemuinya di pusat perdagangan Asia. Karena itu, Suma Oriental bukan sekadar kisah perjalanan seorang Portugis, melainkan juga sebuah gambaran tentang apa yang diketahui oleh jaringan perdagangan pada awal abad ke-16.

Ilustrasi dibuat menggunakan AI.

Ketika Malaka Jatuh ke Tangan Portugis

Tomé Pires hidup pada masa ketika Portugis sedang memperluas pengaruhnya ke Samudra Hindia dan Asia Tenggara. Setelah Vasco da Gama mencapai India pada akhir abad ke-15, Portugis mulai membangun jaringan pelayaran dan perdagangan yang menghubungkan India dengan kawasan Asia Tenggara.

Salah satu sasaran terpenting adalah Malaka.

Pada 1511, armada Portugis di bawah Afonso de Albuquerque berhasil merebut kota tersebut. Peristiwa ini menjadi salah satu titik penting dalam sejarah perdagangan maritim Asia Tenggara. Malaka bukan sekadar sebuah kota, tetapi merupakan salah satu pusat perdagangan yang mempertemukan pedagang dari berbagai wilayah Asia.

Jatuhnya Malaka tidak berarti jaringan perdagangan di Selat Malaka berhenti. Sebaliknya, perubahan kekuasaan tersebut membuat pelabuhan-pelabuhan lain menjadi semakin penting. Para pedagang, penguasa, dan pelaut harus menyesuaikan diri dengan situasi baru.

Dalam konteks inilah catatan Tomé Pires menjadi menarik.

Suma Oriental kemungkinan besar disusun antara 1512 dan 1515. Karya tersebut mencakup wilayah yang sangat luas, dari Laut Merah hingga Asia Timur, dengan perhatian besar pada perdagangan, pelabuhan, kerajaan, komoditas, jalur pelayaran, dan hubungan politik. Penelitian mengenai karya ini juga menunjukkan bahwa Suma Oriental pada dasarnya merupakan laporan mengenai dunia Timur yang sangat memperhatikan persoalan ekonomi dan perdagangan.

Dengan demikian, ketika Pires menulis tentang Sumatra, ia tidak sedang melihat pulau tersebut sebagai wilayah yang berdiri sendiri. Sumatra merupakan bagian dari jaringan maritim yang jauh lebih luas.

Siapa Tomé Pires?

Tomé Pires adalah seorang Portugis yang berada di kawasan Asia pada masa awal ekspansi Portugis. Ia pernah berada di Malaka dan kemudian India. Dari lingkungan inilah ia memperoleh berbagai informasi mengenai negeri-negeri yang terhubung dengan jaringan perdagangan Portugis.

Karyanya kemudian dikenal sebagai Suma Oriental. Edisi penting yang menjadi rujukan hingga sekarang adalah edisi Armando Cortesão yang diterbitkan oleh Hakluyt Society pada 1944. Edisi tersebut terdiri atas dua volume dan memuat terjemahan dari manuskrip Portugis, disertai berbagai catatan dan materi pendukung.

Namun, penting untuk memahami bahwa Suma Oriental bukanlah buku perjalanan dalam pengertian modern.

Pires memang menggunakan pengalaman dan pengamatannya sendiri, tetapi ia juga bergantung pada informasi dari orang lain. Karena itu, ketika ia menggambarkan sebuah kerajaan yang jauh dari tempatnya berada, informasi tersebut bisa saja merupakan hasil percakapan dan pengetahuan yang beredar di antara para pedagang dan pelaut.

Hal ini justru membuat Suma Oriental semakin menarik.

Yang kita baca bukan hanya "apa yang dilihat Pires", tetapi juga bagian dari pengetahuan geografis dan perdagangan yang beredar dalam jaringan Asia pada awal abad ke-16.

Sumatra dalam Pandangan Pires

Ketika mulai membahas Sumatra, Pires menggambarkan pulau tersebut sebagai wilayah yang memiliki banyak kerajaan dan negeri.

Ia bahkan menjelaskan bahwa ia akan menguraikan kerajaan-kerajaan di Sumatra, bentuk perdagangannya, jenis barang yang diperdagangkan, ukuran wilayah, serta kapal-kapal yang digunakan.

Dalam daftar awalnya, nama Achey muncul bersama sejumlah negeri lain.

Dalam terjemahan Armando Cortesão, bagian tersebut menyebut:

“the kingdom of Achin (Achei) and Biar Lambry, the kingdom of Pedir...”

Nama-nama itu kemudian diikuti oleh sejumlah kerajaan lain seperti Pirada, Pase, Bata, Aru, Arcat, Rupat, Siak, Kampar, dan berbagai wilayah di pesisir timur serta barat Sumatra.

Bagi pembaca masa kini, daftar tersebut mungkin tampak seperti rangkaian nama geografis. Namun jika dibaca dalam konteks awal abad ke-16, daftar ini memberikan gambaran penting: Sumatra bukanlah sebuah ruang politik tunggal.

Di sepanjang pesisirnya terdapat berbagai kerajaan dan negeri yang mempunyai hubungan perdagangan, persaingan, peperangan, dan hubungan politik satu sama lain.

Di bagian utara pulau inilah nama Achey menjadi semakin menarik.

Achey di Ujung Utara Sumatra

Dalam bagian yang secara khusus membahas wilayah tersebut, Pires menempatkan Achey sebagai negeri pertama di sisi jalur yang ia gunakan untuk menggambarkan Sumatra.

Ia menulis:

“Achin is the first country on the channel side of the island of Sumatra...”

Dalam teks Portugisnya, kalimat tersebut muncul sebagai:

“Achey he a pimeira terra Da bamda do canall da Jlha de gomotora.”

Sesudah menyebut Achey, Pires kemudian berbicara tentang Lambry. Ia menggambarkan Lambry sebagai negeri yang berada berdekatan dengan Achey dan membentang ke pedalaman. Di antara Achey dan Pedir, ia juga menyebut sebuah wilayah bernama Biar.

Gambaran ini penting karena menunjukkan bahwa bagi Pires, Achey bukan sekadar sebuah nama yang berdiri sendiri.

Ia berada dalam sebuah lanskap politik dan geografis yang terdiri atas beberapa negeri yang saling berdekatan.

Dalam catatan Cortesão, Lambry kemudian dihubungkan dengan Lamuri atau Lamori yang telah muncul dalam catatan Arab dan tulisan para pelancong Eropa sebelumnya. Dengan demikian, pembaca Suma Oriental sebenarnya sedang berhadapan dengan lapisan sejarah yang lebih panjang: nama-nama yang sudah dikenal pada masa sebelumnya muncul kembali dalam sebuah sumber Portugis pada awal abad ke-16.

Raja Achey dan Negeri-Negeri di Sekitarnya

Salah satu bagian paling menarik dari catatan Pires adalah keterangannya mengenai kekuasaan Raja Achey.

Pires menyatakan bahwa wilayah antara Achey dan Pedir, termasuk tanah Biar yang ia sebut, pada saat itu berada di bawah Raja Achey. Dalam terjemahan Cortesão, ia menulis bahwa:

“these countries are subject to the king of Achey”

dan kemudian menambahkan bahwa raja tersebut merupakan satu-satunya raja yang berkuasa atas wilayah itu.

Keterangan ini tentu sangat menarik bagi sejarah Aceh.

Namun, di sinilah pembacaan sejarah perlu dilakukan secara hati-hati.

Kita tidak seharusnya begitu saja memasukkan semua gambaran Pires ke dalam struktur politik Aceh yang berkembang pada abad-abad berikutnya. Pires sedang menggambarkan keadaan yang ia pahami pada awal abad ke-16. Istilah, batas wilayah, dan bentuk kekuasaan pada masa tersebut tidak selalu identik dengan konsep wilayah administratif modern.

Dengan kata lain, Achey dalam Suma Oriental harus dibaca sebagai Achey pada awal abad ke-16, bukan secara otomatis sebagai gambaran lengkap Aceh pada masa kemudian.

Meski demikian, informasi Pires tetap penting. Ia memberikan indikasi bahwa Achey memiliki posisi politik yang cukup penting di kawasan utara Sumatra dan bahwa pengaruh rajanya, menurut informasi yang diterima Pires, menjangkau wilayah di sekitarnya.

Dari Politik ke Perdagangan

Pires tidak hanya tertarik pada siapa yang menjadi raja.

Sebagai penulis yang berada dalam lingkungan perdagangan Portugis, ia juga memperhatikan kapal, komoditas, pelabuhan, dan sumber daya.

Dalam uraian mengenai wilayah Achey, ia menyebut keberadaan sejumlah kapal lanchara yang digunakan dalam aktivitas bersenjata. Ia juga menggambarkan hasil pangan seperti beras dan berbagai kebutuhan lainnya. Di sekitar kawasan tersebut, perdagangan dan pelayaran menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi.

Menarik pula bahwa Pires mencatat sejumlah pulau di sekitar kawasan tersebut sebagai berada di bawah Raja Achey. Penduduknya, meskipun tidak banyak, disebut berada dalam kekuasaan raja tersebut. Pires juga menyebut aktivitas penangkapan ikan dan perdagangan hasil laut.

Keterangan seperti ini mengingatkan kita bahwa sejarah Aceh pada masa awal abad ke-16 tidak dapat dipisahkan dari laut.

Aceh berada di ujung utara Sumatra, tepat di kawasan yang menghadap jalur pelayaran penting. Hubungannya dengan negeri-negeri di sekitarnya berlangsung melalui jalur darat maupun laut, sementara perdagangan menghubungkan pelabuhan-pelabuhan tersebut dengan kawasan yang lebih jauh.

Karena itu, ketika Pires mencatat Achey, ia sebenarnya sedang mencatat bagian dari sebuah dunia maritim.

Achey dan Pedir: Hubungan yang Tidak Selalu Damai

Catatan Pires juga memberikan gambaran bahwa hubungan antarkerajaan di kawasan utara Sumatra tidak selalu berlangsung dalam suasana damai.

Ia menyebut adanya perselisihan antara Achey dan Pedir. Dalam uraian mengenai Raja Achey, Pires menggambarkan konflik dan peperangan di antara keduanya serta serangan yang dilakukan ke wilayah Pedir.

Keterangan ini memperlihatkan sesuatu yang sering hilang dalam gambaran sederhana tentang sejarah pelabuhan.

Pelabuhan-pelabuhan bukan hanya tempat kapal datang dan pergi. Di belakang perdagangan terdapat kekuasaan politik. Penguasaan atas pelabuhan, jalur masuk, sumber pangan, pulau-pulau, dan jalur pelayaran dapat berhubungan langsung dengan kekuatan sebuah kerajaan.

Bagi Portugis yang baru saja menguasai Malaka, informasi semacam ini tentu memiliki nilai praktis. Mengetahui siapa yang berkuasa, siapa yang bermusuhan, pelabuhan mana yang ramai, dan barang apa yang tersedia merupakan bagian dari upaya memahami jaringan perdagangan Asia.

Dengan demikian, catatan Pires tentang Aceh juga perlu dibaca dari sudut pandang kepentingan Portugis.

Seberapa Dekat Pires dengan Aceh?

Pertanyaan ini penting.

Membaca Suma Oriental dapat dengan mudah membuat kita membayangkan Pires sebagai seorang pelancong yang mendatangi semua tempat yang ia gambarkan. Padahal, sumber tersebut tidak selalu dapat dibaca seperti itu.

Sebagian informasi yang ia tuliskan kemungkinan berasal dari orang-orang yang terlibat dalam jaringan perdagangan. Pires berada di Malaka dan kemudian India, dua tempat yang menjadi titik pertemuan banyak orang dari berbagai wilayah Asia.

Para pedagang dan pelaut membawa informasi dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Nama kerajaan, harga barang, jenis komoditas, kondisi pelabuhan, kekuatan penguasa, bahkan konflik antarkerajaan dapat menjadi bagian dari pengetahuan yang beredar bersama aktivitas perdagangan.

Karena itu, ketika Pires menulis mengenai Achey, yang kita miliki adalah sumber sezaman yang sangat berharga, tetapi bukan laporan etnografis modern tentang Aceh.

Perbedaan ini penting.

Catatan Pires dapat membantu kita mengetahui bagaimana Aceh dipahami dalam jaringan informasi pada awal abad ke-16. Namun, untuk mengetahui bagaimana masyarakat Aceh sendiri melihat kerajaan, penguasa, atau wilayah mereka, kita tetap perlu membandingkannya dengan sumber-sumber lain.

Inilah salah satu alasan mengapa sumber asing harus dibaca bersama sumber lokal dan sumber dari wilayah lain.

Antara Achey dan Aceh

Ada pula persoalan mengenai nama.

Pires menggunakan bentuk seperti Achey atau Achei, sedangkan pembaca masa kini mengenalnya sebagai Aceh. Ejaan yang berbeda merupakan hal yang lazim dalam sumber-sumber lama. Penulis Eropa menuliskan nama tempat berdasarkan bahasa, pendengaran, dan kebiasaan ejaan mereka sendiri.

Karena itu, perbedaan antara Achey dan Aceh bukan berarti Pires sedang berbicara tentang tempat yang sama sekali berbeda.

Namun, kita juga tidak perlu menganggap bahwa setiap nama dalam sumber lama dapat langsung dipetakan secara sempurna ke wilayah modern.

Identifikasi geografis membutuhkan perbandingan dengan sumber lain, konteks geografis, peta lama, dan penelitian para sejarawan.

Hal yang sama berlaku untuk nama-nama seperti Lambry dan Pedir. Hubungan Lambry dengan Lamuri dan Pedir dengan wilayah Pidie merupakan identifikasi yang telah lama digunakan dalam historiografi, tetapi proses identifikasi tersebut tetap merupakan pekerjaan sejarah, bukan sekadar mengganti ejaan lama dengan ejaan modern.

Justru di sinilah menariknya membaca sumber seperti Suma Oriental.

Ia tidak selalu memberikan jawaban yang sederhana. Kadang-kadang ia memberikan potongan informasi yang harus disusun kembali bersama sumber lainnya.

Apa yang Sebenarnya Kita Pelajari dari Pires?

Jika dibaca secara keseluruhan, catatan Tomé Pires memberi kita beberapa gambaran penting mengenai Aceh pada awal abad ke-16.

Pertama, nama Achey sudah muncul dalam sumber Portugis pada masa tersebut dan ditempatkan di antara negeri-negeri penting di utara Sumatra.

Kedua, Achey digambarkan sebagai sebuah kekuatan politik yang memiliki hubungan kekuasaan dengan wilayah di sekitarnya. Pires secara khusus menyebut tanah Biar dan wilayah di antara Achey dan Pedir sebagai berada di bawah Raja Achey.

Ketiga, kehidupan politik tersebut tidak dapat dipisahkan dari perdagangan. Pires memperhatikan kapal, ikan, beras, kebutuhan pangan, pulau-pulau, dan berbagai bentuk aktivitas ekonomi.

Keempat, hubungan antarkerajaan tidak selalu damai. Persaingan antara Achey dan Pedir menunjukkan bahwa dunia perdagangan juga merupakan dunia persaingan politik.

Dan kelima, semua informasi tersebut perlu dibaca dengan memahami posisi Pires sebagai orang Portugis yang berada dalam jaringan perdagangan Asia.

Dengan kata lain, Suma Oriental bukanlah cermin yang memantulkan Aceh secara sempurna. Ia adalah sebuah jendela.

Melalui jendela itu, kita dapat melihat bagaimana seorang penulis Portugis pada awal abad ke-16 memahami sebuah negeri di ujung utara Sumatra, bagaimana ia menempatkannya dalam peta politik dan perdagangan, serta bagaimana informasi tentang negeri tersebut beredar dalam dunia maritim Asia.

Aceh dalam Dunia yang Sedang Berubah

Ketika Tomé Pires menulis Suma Oriental, Aceh sedang berada pada sebuah kawasan yang sangat dinamis.

Malaka baru saja jatuh ke tangan Portugis. Pedir dan negeri-negeri lain tetap memainkan peran dalam perdagangan Sumatra. Di sekitar utara pulau, kerajaan-kerajaan berhubungan melalui perdagangan, peperangan, pelayaran, dan perebutan pengaruh.

Di tengah semua itu, nama Achey muncul.

Bagi kita, nama tersebut merupakan salah satu jejak awal yang penting untuk memahami perkembangan Aceh dalam sumber-sumber Eropa. Tetapi bagi Pires, Achey adalah bagian dari sebuah peta yang jauh lebih besar—peta perdagangan dan kekuasaan yang membentang dari Samudra Hindia hingga Asia Tenggara.

Membaca catatan tersebut hari ini berarti melihat Aceh dari jarak lima abad.

Kita tidak sedang melihat Aceh melalui mata orang Aceh sendiri. Kita juga tidak sedang mendapatkan gambaran lengkap tentang seluruh kehidupan masyarakatnya. Yang kita lihat adalah sebuah potongan informasi yang ditulis oleh seorang Portugis, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang ia miliki dalam jaringan perdagangan Asia pada masa itu.

Namun, justru potongan-potongan semacam inilah yang membuat Suma Oriental begitu penting.

Di dalam beberapa baris teks Portugis tua, muncul nama Achey. Di sekelilingnya terdapat Lambry, Biar, Pedir, dan negeri-negeri lain. Ada raja, kapal, perdagangan, peperangan, pulau, dan jalur laut.

Semua itu memberi kita gambaran bahwa pada awal abad ke-16, Aceh bukanlah sebuah wilayah yang berada di pinggir sejarah.

Ia berada di tengah dunia maritim yang sedang berubah.

Dan ketika Tomé Pires menuliskan Achey, ia tanpa sadar meninggalkan salah satu jejak tertulis yang memungkinkan kita menengok kembali dunia Aceh pada masa sebelum sejarahnya berkembang menjadi salah satu kekuatan penting di kawasan Selat Malaka.
 

--------

Catatan aceh.my.id 

Tulisan ini dikembangkan dengan bantuan AI sebagai teman diskusi dalam proses riset dan penyuntingan. Seluruh isi akhir telah ditinjau dan disunting oleh penulis

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.