Menemukan Jejak Aceh di Penang: Masjid Lebuh Acheh

Tidak semua tempat yang berkesan dalam sebuah perjalanan lahir dari rencana. Ada yang justru ditemukan secara kebetulan, dari sebuah percakapan singkat dengan orang yang bahkan sebelumnya tidak kita kenal. Begitulah awal kisahku menemukan salah satu jejak Aceh di George Town, Penang: Masjid Lebuh Acheh.

Pada bulan Juni tahun 2025, aku hanya memiliki waktu sekitar satu hari di Penang. Kunjungan singkat itu cukup membuatku antusias, sebab nama Pulau Pinang sudah sering kudengar sejak kecil, tetapi baru pada usia 28 tahun akhirnya aku berkesempatan menginjakkan kaki di sana. Meski waktu terbatas, aku tetap menyempatkan diri berjalan-jalan menikmati George Town.

Salah satu tempat yang kudatangi adalah kawasan Penang Street Art. Seperti kebanyakan wisatawan yang datang ke George Town, perhatianku tertuju pada mural-mural yang menghiasi dinding bangunan tua dan lorong-lorong sempit di kawasan tersebut. 

Saat sedang berdiri di salah satu sudut kawasan itu, seorang warga lokal menghampiri dan memulai percakapan. Awalnya ia menawarkan sesuatu kepadaku. Sejujurnya, aku sudah tidak begitu ingat apakah itu lukisan, foto, atau jasa berfoto di depan mural yang hasilnya bisa langsung dicetak. 

Percakapan singkat itu kemudian berlanjut hingga ia bertanya dari mana aku berasal. Ketika kusebut bahwa aku berasal dari Aceh, ia memberi tahu bahwa tidak jauh dari tempat kami berada terdapat sebuah masjid yang memiliki kaitan dengan orang Aceh. 

Tampak depan Masjid Lebuh Acheh (Dokumentasi Pribadi)

“Masjid Aceh,” begitu kira-kira yang kutangkap dari penjelasannya.

Informasi sederhana itu langsung membuatku penasaran. Berada jauh dari tanah kelahiran, lalu mendengar nama Aceh disebut oleh seseorang di tengah kota tua George Town, tentu terasa sedikit berbeda. Aku segera membuka Google Maps dan baru menyadari bahwa lokasi yang dimaksud ternyata memang tidak jauh dari tempatku berdiri: Masjid Melayu Lebuh Acheh.

Tanpa banyak berpikir, dari kawasan mural Penang Street Art, aku berjalan menuju Lebuh Acheh. Awalnya hanya karena rasa penasaran ingin melihat sebuah masjid yang membawa nama daerah asalku. Namun setelah tiba di sana, aku mulai menyadari bahwa tempat itu bukan sekadar bangunan ibadah dengan nama “Acheh” di papan jalan.

Di balik masjid tersebut tersimpan sebuah cerita tentang orang-orang yang datang, menetap, berdagang, menuntut ilmu, dan membangun kehidupan di Penang.

Dan cerita itu ternyata telah berlangsung lebih dari dua abad.

Sebelum Ada Masjid, Ada Sebuah Perkampungan 

Untuk memahami mengapa nama Aceh bisa melekat begitu kuat di salah satu sudut George Town, ceritanya harus ditarik jauh ke penghujung abad ke-18.

George Town mulai berkembang setelah Francis Light mendirikan permukiman Inggris di Pulau Pinang pada 1786. Letaknya di Selat Malaka membuat kawasan ini kemudian tumbuh sebagai kota pelabuhan tempat bertemunya manusia, barang, budaya, dan gagasan dari berbagai penjuru.

Di tengah perubahan itulah muncul nama Tengku Syed Hussain Al-Aidid.

Catatan Majlis Agama Islam Negeri Pulau Pinang menyebut bahwa pada 1792 Tengku Syed Hussain Al-Aidid, yang disebut sebagai kerabat diraja Aceh, membuka kawasan perkampungan masyarakat Islam seluas sekitar 66.000 kaki persegi di tempat yang sekarang dikenal sebagai Lebuh Acheh.

Ia tidak sekadar mendirikan tempat tinggal untuk dirinya dan keluarganya. Di kawasan itu kemudian berkembang rumah-rumah, deretan kedai, kegiatan perdagangan, kantor yang mengurus urusan impor dan ekspor, serta kegiatan pengajian Islam. Catatan resmi pemerintah Malaysia menyebut kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat awal pengajian Islam di Pulau Pinang.

Dengan kata lain, yang tumbuh di Lebuh Acheh bukan sekadar sebuah masjid.

Yang sedang terbentuk adalah sebuah komunitas.

Membaca sejarah tersebut membuat nama “Lebuh Acheh” terasa berbeda. Nama itu tidak muncul begitu saja di peta George Town. Ia menjadi penanda bahwa lebih dari dua ratus tahun lalu, orang-orang telah datang ke kawasan ini, membangun rumah, menjalankan perdagangan, beribadah, belajar, dan perlahan menjadikannya tempat hidup.

Masjid yang Berdiri Sejak 1808 

Pada 1808, Masjid Melayu Lebuh Acheh didirikan oleh Tengku Syed Hussain Al-Aidid.

Lebih dari dua abad kemudian, bangunannya masih berdiri di tengah George Town.

Dalam berbagai sumber berbahasa Inggris, masjid ini disebut Acheen Street Mosque atau Acheen Street Malay Mosque. Sementara nama Masjid Melayu Lebuh Acheh tetap digunakan hingga sekarang.

Ejaan “Acheh” sendiri menarik perhatianku. Ia terasa seperti potongan masa lalu yang berhasil bertahan di tengah perubahan zaman.

Masjid tersebut juga merekam pertemuan berbagai pengaruh melalui arsitekturnya.

Arkib Negara Malaysia mencatat adanya perpaduan unsur Moorish, Cina, dan klasik dalam arsitektur Masjid Melayu Lebuh Acheh. Atapnya berbentuk rumah perabung lima, sementara salah satu bagian yang paling mudah dikenali adalah menaranya yang memiliki bentuk menyerupai pagoda Cina. Catatan pemerintah Malaysia juga menyebut adanya pengaruh arsitektur Moghul pada bagian dalam bangunan.

Perpaduan itu rasanya tidak mengherankan.

George Town memang tumbuh dari pertemuan banyak budaya. Kota ini selama berabad-abad menjadi salah satu tempat bertemunya masyarakat Melayu, Cina, India, Arab, Eropa, dan berbagai kelompok lain yang terhubung melalui jalur perdagangan Selat Malaka.

Masjid Lebuh Acheh seperti menyimpan sebagian kecil dari pertemuan besar tersebut dalam bentuk bangunannya.

Namun kisah paling menarik dari Lebuh Acheh justru muncul ketika kawasan ini kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan manusia menuju tempat yang ribuan kilometer jauhnya dari Penang.

Mekah.

Ketika Lebuh Acheh Menjadi Bagian dari “Jeddah Kedua”

Sulit membayangkan suasana Lebuh Acheh hari ini sebagai sebuah kampung transit yang dipenuhi calon jemaah haji.

Tetapi selama bertahun-tahun, begitulah kehidupan di kawasan tersebut.

Sebelum pesawat terbang menjadi moda utama perjalanan haji, orang-orang dari kawasan Asia Tenggara harus menempuh perjalanan panjang menggunakan kapal laut untuk mencapai Tanah Suci.

Penang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat penting bagi perjalanan tersebut. Pembukaan Terusan Suez pada 1869 ikut mengubah jalur pelayaran menuju Jeddah dan membuat perjalanan menjadi jauh lebih singkat dibandingkan masa sebelumnya.

Lebuh Acheh berada di tengah kesibukan itu.

Jemaah datang ke kawasan ini untuk membeli tiket kapal, menukar uang, membeli perlengkapan, mempersiapkan diri sebelum perjalanan, dan menunggu keberangkatan menuju Jeddah.

Sebagian tinggal beberapa hari.

Sebagian lainnya menunggu hingga berminggu-minggu.

Pada musim haji, rumah-rumah di sekitar Acheen Street disewakan kepada calon jemaah. Mereka yang tidak mendapatkan penginapan bahkan dapat tinggal di sekitar masjid. Aktivitas haji di kawasan tersebut mencapai masa yang sangat ramai pada pertengahan abad ke-20, terutama pada 1950-an.

Bayangkan suasananya.

Lorong-lorong yang sekarang dilalui wisatawan dahulu dipenuhi orang yang membawa barang-barang perjalanan.

Rumah-rumah menjadi penginapan sementara.

Pedagang menjual berbagai keperluan.

Agen perjalanan dan para syeikh haji sibuk mengatur keberangkatan.

Keluarga datang mengantar orang-orang terdekat mereka yang akan melakukan perjalanan sangat jauh dan mungkin baru kembali berbulan-bulan kemudian.

Kawasan sekitar Lebuh Acheh berubah menjadi semacam kampung haji sementara.

Begitu besarnya aktivitas perjalanan haji di Penang sehingga kawasan ini kemudian dikenal dengan sebutan “Jeddah Kedua” atau The Second Jeddah.

Membaca bagian sejarah ini membuatku mencoba membayangkan kembali jalan yang pernah kulalui pada 2025.

Tempat yang ketika itu terlihat tenang ternyata pernah menyimpan hiruk-pikuk keberangkatan begitu banyak manusia menuju Tanah Suci.

Dari Lebuh Acheh Menuju Jeddah

Perjalanan mereka tentu tidak seperti perjalanan haji hari ini.

Jemaah harus mengarungi laut selama berhari-hari menggunakan kapal. Catatan mengenai perjalanan dari Penang pada pertengahan abad ke-20 menunjukkan bahwa perjalanan menuju Jeddah dapat memakan waktu sekitar dua minggu. Pada periode yang lebih awal, perjalanan bisa berlangsung jauh lebih lama.

Keberangkatan kapal bahkan menjadi sebuah peristiwa besar.

Pelabuhan dipenuhi keluarga dan kerabat yang datang memberikan salam perpisahan. Bagi sebagian orang, perjalanan menuju Mekah mungkin menjadi perjalanan terjauh yang pernah mereka lakukan sepanjang hidup.

Jejak dari masa tersebut masih dapat ditemukan di Lebuh Acheh.

Di No. 87 Lebuh Acheh, sebuah bangunan yang dahulu pernah digunakan dalam pengurusan tiket kapal haji kini menjadi Galeri Haji Pulau Pinang. Galeri tersebut menyimpan cerita mengenai masa ketika Penang menjadi salah satu pusat penting perjalanan jemaah menuju Mekah dengan kapal laut.

Era itu akhirnya perlahan berakhir.

Berkembangnya sistem pengelolaan haji dan semakin luasnya penggunaan pesawat terbang sejak akhir 1960-an mengubah cara masyarakat menuju Tanah Suci. Agen tiket haji terakhir di Penang tercatat tutup pada 1975. Pada tahun berikutnya, 1976, era perjalanan jemaah haji Malaysia menggunakan kapal laut juga mendekati akhirnya.

Kesibukan musim haji di Lebuh Acheh pun perlahan menjadi kenangan.

“Jeddah Kedua” mulai menghilang dari kehidupan sehari-hari.

Tetapi masjidnya tetap berdiri.

Bukan Hanya Perdagangan dan Haji

Ada lapisan lain dari sejarah Lebuh Acheh yang menurutku sama menariknya: ilmu pengetahuan.

Kawasan di sekitar masjid pernah menjadi salah satu tempat berlangsungnya pendidikan Islam di Pulau Pinang.

Salah satu jejak pentingnya adalah Madrasah Al-Mashoor.

Penang Institute menelusuri akar lembaga pendidikan tersebut ke Madrasah Al-Quran yang bermula di Masjid Melayu Lebuh Acheh pada 1916. Pertemuan untuk membentuk lembaga pendidikan itu bahkan disebut telah berlangsung sejak 1914.

Madrasah Al-Mashoor kemudian berkembang menjadi salah satu institusi pendidikan Islam yang dikenal di Pulau Pinang.

Informasi itu membuat sejarah Lebuh Acheh terasa semakin berlapis.

Tempat ini bukan hanya pernah menjadi pusat kehidupan para pedagang.

Bukan hanya persinggahan calon jemaah haji.

Di lingkungan yang sama, orang juga datang untuk belajar.

Semakin jauh aku membaca sejarahnya, semakin sulit melihat Masjid Lebuh Acheh hanya sebagai sebuah bangunan tua.

Masjid itu pernah berdiri di tengah sebuah ekosistem kehidupan.

Orang datang untuk salat.

Orang berdagang.

Orang belajar membaca Al-Quran.

Calon jemaah haji mempersiapkan perjalanan.

Para perantau membangun kehidupan baru.

Dan dari sebuah kawasan kecil di Penang, hubungan dengan dunia yang jauh lebih luas terus berlangsung.

 

Nama Aceh yang Bertahan di George Town

Lebih dari dua abad setelah perkampungan tersebut dibuka, nama Acheh ternyata tidak hilang.

Ia bertahan menjadi nama jalan.

Bertahan menjadi nama masjid.

Bertahan dalam catatan sejarah Pulau Pinang.

Dan bertahan di tengah sebuah kota yang kemudian diakui dunia sebagai kawasan warisan.

Pada 2008, George Town bersama Melaka dimasukkan UNESCO ke dalam daftar Warisan Dunia sebagai Melaka and George Town, Historic Cities of the Straits of Malacca.

UNESCO menilai kedua kota tersebut sebagai contoh penting kota perdagangan bersejarah yang terbentuk dari ratusan tahun pertukaran budaya dan perdagangan antara Timur dan Barat.

Masjid Melayu Lebuh Acheh sendiri kemudian diisytiharkan sebagai Warisan Kebangsaan Malaysia pada 17 Oktober 2018, sebagaimana tercantum dalam daftar resmi Jabatan Warisan Negara Malaysia.

Status-status itu tentu penting.

Tetapi bagiku, ada sesuatu yang bahkan lebih menarik daripada pengakuan administratif terhadap sebuah bangunan tua.

Yaitu kenyataan bahwa ratusan tahun setelah komunitas itu terbentuk, nama tempat yang begitu kukenal masih dapat ditemukan dengan jelas di sebuah kota di seberang Selat Malaka.

Acheh. 

Hanya sebuah kata di papan jalan.

Tetapi di belakangnya tersimpan perjalanan manusia selama lebih dari dua abad.

 

Acheen Street (Lebuh Acheh), George Town (Dokumentasi Pribadi)

Berdiri Jauh dari Aceh, Menemukan Aceh

Aku datang ke tempat itu tanpa membaca sejarah panjang tersebut sebelumnya.

Tidak ada Masjid Lebuh Acheh dalam daftar tempat yang sejak awal ingin kukunjungi di Penang. Tidak pula ada rencana khusus untuk menelusuri jejak masyarakat Aceh di Malaysia.

Aku hanya kebetulan berbicara dengan seseorang.

Lalu menyebut bahwa aku berasal dari Aceh.

Dan seseorang yang tinggal di negeri lain justru memberitahuku bahwa di dekat tempat kami berdiri terdapat sebuah masjid yang membawa nama daerah asalku.

Mungkin itulah yang membuat kunjungan tersebut terasa berbeda.

Seandainya sejak awal Masjid Lebuh Acheh masuk ke dalam daftar destinasi yang telah kususun, barangkali aku akan datang seperti mendatangi tempat wisata lainnya: membuka Google Maps, berjalan menuju lokasi, mengambil beberapa foto, membaca papan informasi, kemudian pergi.

Namun kali ini ceritanya tidak seperti itu.

Aku menemukannya karena sebuah percakapan.

Dan baru setelah perjalanan itu selesai, ketika mulai membaca lebih jauh tentang tempat yang pernah kudatangi tersebut, aku menyadari betapa panjang cerita yang tersembunyi di balik nama sebuah jalan.

Lebuh Acheh bukan sekadar bukti bahwa pernah ada orang dari Aceh yang datang ke Penang.

Jejaknya memperlihatkan sesuatu yang lebih besar: bagaimana Selat Malaka selama berabad-abad menjadi ruang pergerakan manusia.

Laut yang hari ini terlihat seperti pemisah antara dua negara, pada masa lalu justru menjadi jalan yang menghubungkan komunitas-komunitas di kedua sisinya.

Orang berdagang melintasinya.

Perantau mencari kehidupan baru.

Ilmu dan gagasan ikut berpindah.

Dan ribuan calon jemaah haji melewati Penang sebelum meneruskan perjalanan yang jauh menuju Jeddah dan Mekah.

Aceh dan Penang, jika melihat sejarah tersebut, ternyata tidak sepenuhnya berdiri sebagai dua dunia yang terpisah.

Ada laut di antara keduanya.

Tetapi laut yang sama pula yang menghubungkannya.

Masjid Lebuh Acheh adalah salah satu saksi yang masih tersisa dari dunia tersebut.

Ketika aku berjalan ke sana pada Juni 2025, tujuan awalku sederhana: melihat “Masjid Aceh” yang baru saja diberitahukan seorang warga lokal.

Ternyata yang kutemukan jauh lebih besar dari sebuah masjid.

Aku menemukan satu bagian kecil dari sejarah Aceh yang justru tersimpan di negeri orang.

Dan mungkin begitulah sejarah sering bekerja.

Ia tidak selalu menunggu kita di museum atau di dalam buku-buku tebal. Kadang-kadang ia bersembunyi di ujung sebuah lorong, pada nama sebuah jalan, pada bangunan yang telah berdiri ratusan tahun—atau dalam sebuah percakapan singkat dengan orang asing di tengah perjalanan.

-------- 

Catatan aceh.my.id

Artikel berdasarkan cerita perjalan Muhammad Multazam, dan tulisan diolah dengan teknologi Artificial Intelligence (AI)  

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.